Selasa, 30 Oktober 2018

Sejarah Awal Penerjemahan
Bukti peran juru bahasa tertua di dunia yang pernah ditemukan saat ini berasal dari zaman Babilonia Kuno. Gambaran kegiatan penerjemahan ini terukir pada sebuah prasasti kuburan firaun terakhir dinasti ke-18 Mesir Kuno, Horemheb. Dalam prasasti tersebut ditemukan sebuah ukiran gambar manusia dalam posisi sedang mendengarkan dan berbicara. Relief tersebut menggambarkan Horemheb yang memperkenalkan juru bahasa kepada pimpinan bangsa asing pada saat pertemuannya dengan Tutankhamen.

Relief juru bahasa tersebut juga mengindikasikan status sosial juru bahasa pada masa itu. Ukiran juru bahasa dibuat lebih kecil dibandingkan ukiran Horemheb. Selain itu, sang juru bahasa juga tidak memiliki janggut yang pada masa itu mengindikasikan kekuasaan dan keturunan dewa. Penanda tersebut mengindikasikan bahwa posisi juru bahasa hanyalah sebuah peran mediasi dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri.

Pada zaman Mesir Kuno, sebutan "manusia" merupakan sebutan kehormatan yang hanya disematkan kepada kelompok masyarakat yang menjadi bagian dari wangsa yang sama. Pada sisi lain, orang-orang di luar kelompok ini atau orang asing akan disebut sebagai kaum barbar. Para ahli arkeologi memercayai bahwa status sosial juru bahasa lebih rendah dibandingkan kaum barbar karena ukuran reliefnya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan relief orang asing.

Pada dasarnya, belum ada penemuan lengkap yang menguraikan secara terperinci mengenai sejarah penerjemahan. Walaupun demikian, Hans J. Vermeer, seorang ahli linguistik berkebangsaan Jerman pernah memublikasikan sebuah karya berjudul "Skizzen zu einer Geschichte der Translation". Dalam karyanya ini, Hans mengelompokkan sejarah penerjemahan dalam beberapa pembabakan, mulai dari periode Klasik hingga Abad Renaisans.

Sebagian besar karya terjemahan yang diangkat waktu itu bersifat anonim sehingga peran penerjemah bukanlah peran "primadona" yang dikenal khalayak. Meskipun demikian, karya-karya terjemahan yang dihasilkan memainkan peran penting dalam perkembangan zaman. Beberapa hal penting yang berkembang akibat karya terjemahan di antaranya adalah penyebaran agama melalui penerjemahan kitab suci, pengembangan bahasa nasional, penyebaran pengetahuan, perluasan kekuatan politik, penyebaran nilai budaya, penyusunan kamus dan peran juru bahasa dalam misi-misi diplomatik.

a. Penerjemahan pada Periode Antik Yunani-Romawi
Periode ini diyakini sebagai periode pertama saat ditemukannya konsep dasar penerjemahan. Salah satu tujuan kegiatan penerjemahan pada periode ini diyakini sebagai bentuk untuk memperkenalkan bahasa Latin kepada bangsa Yunani. Strategi ini diterapkan melalui pembuatan karya sastra. Selain itu, penerjemahan juga digunakan sebagai media untuk mengadopsi karya sastra bangsa Yunani kuno dan mengalihkannya menjadi genre baru dalam karya sastra bangsa Romawi.

Salah satu penerjemah terkenal pada masa ini adalah Marcus Tullius Cicero (106-43 SM). Salah satu teori penerjemahan yang diperkenalkan Cicero adalah "non ut interpres sed ut orator", seorang penerjemah pada saat melakukan kegiatan penerjemahan sudah selaiknya memosisikan dirinya bukan sebagai orang yang mengalihbahasakan suatu teks agar mirip dengan teks sasaran, melainkan penerjemah harus memosisikan diri seolah-olah teks yang diterjemahkan berasal dari mulutnya sendiri agar hasil terjemahan terasa nyata dan bukan terasa sebagai karya terjemahan.

b. Penerjemahan pada Masa Martin Luther
Salah satu karya terjemahan terbesar dalam sejarah umat manusia yang mengakibatkan perubahan signifikan bagi peradaban manusia adalah terjemahan Bibel ke dalam bahasa Jerman kuno oleh Martin Luther, pemimpin Reformasi Protestan Jerman. Martin Luther tergerak untuk melakukan penerjemahan Bibel karena Bibel pada waktu itu hanya tersedia dalam bahasa Latin yang hanya dipahami oleh kaum cendekiawan dan pendeta. Luther meyakini bahwa kitab suci harus dapat diakses oleh semua kalangan dan dipahami tanpa ada sekat bahasa.

Ketidaksepahaman Luther dengan Gereja Katolik Roma sudah bermula ketika ia membuat 95 dalil yang mengguncang dunia pada tahun 1517. Pada waktu itu, Luther tidak sepaham dengan Gereja katolik Roma yang melakukan praktik korupsi, jual beli indulgensi penuh untuk pengampunan dosa, dan peran mutlak Paus sebagai satu-satunya orang yang dapat menerjemahkan kitab suci.

Penentangan Luther terhadap kesewenang-wenangan Gereja Katolik Roma berhasil menumbuhkan niatnya untuk menyadarkan para pengikut gereja bahwa keyakinan beragama haruslah diiringi dengan pemahaman mendalam yang tidak dimonopoli oleh satu kelompok demi kepentingan sepihak.

Luther kemudian menerbitkan karya terjemahannya yang dikenal sebagai Kitab Perjanjian Baru pada tahun 1522. Selanjutnya, pada tahun 1534, Luther menerbitkan terjemahan lengkap Bibel yang berisi kitab perjanjian lama, perjanjian baru dan apokrif. Karya Martin Luther ini memberikan dampak besar bagi perkembangan dunia penerjemahan. Ia diyakini telah meruntuhkan tembok penghalang yang dulunya membatasi perkembangan ilmu pengetahuan lintas bahasa. Setelah mendobrak sekat ini, dunia penerjemahan bangun menggeliat dan berkembang pesat sebagai media pertukaran informasi dan bahkan juga digunakan sebagai media penyampaian kritik atas hasil karya terjemahan Luther.

Bibel Luther. Sumber: Torsten Schleese 
Ano Jumisa

Referensi:
Rijksmuseum van Oudheden, Leiden: www.rmo.nl
Stolze, Radegundis. √úbersetzungstheorien. Narr Francke Attempto Verlag.
http://www.giic.net/curious_pt2.htm
Foto relief juru bahasa. Sumber: tautan

A linguaphile at heart and a photography enthusiast.

0 komentar:

Posting Komentar

Start Work With Me

Contact Me