Selasa, 30 Oktober 2018

Ulasan Novel Hujan Bulan Juni

"Bahwa kasih sayang beriman pada senyap." Sapardi Djoko Damono.

Lirih. Kata pertama yang melayang dalam benak saya saat selesai membaca novel karya pujangga kelahiran Solo ini. Bagaimana tidak, novel ini berkisah tentang dua orang tenaga pendidik di sebuah kampus ternama di Indonesia yang sangat kentara dengan watak romantika cinta seperti yang sering dikisahkan generasi sebelum milenial. Mereka memupuk subur romantika cinta saat melakukan perjalanan dinas yang ditugaskan instansinya. Cerita sendu yang dijalani oleh dua tokoh utama, Sarwono dan Pingkan Palenkahu, ini mengetengahkan alur tentang nilai yang tak sempat bermuara di ujung lidah, cinta yang tak terucap, rindu yang tak terungkap, cemburu yang tak tersibak, dan angan yang saling bertolak.

Sapardi tak hanya berhasil menyatukan minahasa dan jawa, dua kontras budaya dari ujung utara dan selatan Indonesia dalam ceritanya ini, tetapi juga sedikit banyak menyentil kisah tabu yang justru menggariskan kembali kenyataan bahwa Indonesia itu kaya dan beragam. Kearifan budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, norma dan nilai keluarga yang dijunjung tinggi di atas segalanya, sampai dengan ajaran agama yang sangat sensitif tak luput dicuil sang guru besar kelahiran tahun 1940 ini.

Cerita Konservatif dalam Balutan Masa Kini

Walaupun garis cerita cenderung kolot, Sapardi tidak lupa menempatkan diri dengan gaya kekinian agar bisa diterima pembaca masa kini. Latar waktu yang diambil dari abad ke-21 dengan ditandai penggunaan motif teknologi seperti whatsapp, keynote, google, sampai raksasa berita CNN pun muncul sebagai motif pendukung garis waktu cerita.

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diapresiasi dalam unsur cerita novel ini. Pengangkatan legenda masyarakat minahasa, Pingkan dan Matindas, sebagai salah satu unsur pembangun cerita cukup mengingatkan kembali bahwa ada banyak sekali cerita rakyat di Indonesia yang mungkin saat ini sudah jarang sekali atau bahkan tidak sama sekali diketahui oleh generasi muda sekarang.

"Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri." Sapardi.

Selanjutnya, hubungan beda agama yang digambarkan terjalin cukup harmonis berhasil mengubah persepsi pembaca. Namun, Sapardi tetap realistis dengan membangun konflik yang cukup lumrah ditemukan. Pengaruh aspek budaya dalam alur konflik mengantarkan kita tentang cara menyikapi konflik secara dewasa. Konsep bhinneka tunggal ika yang begitu kental diejawantahkan dengan baik dan tidak berlebihan.

Terakhir adalah apresiasi saya tentang bagaimana Sapardi menonjolkan konsep eksistensialisme dalam kedua tokoh utama yang bebas untuk menentukan sikap, membuat keputusan dan menentukan jalan hidup mereka sendiri di tengah kecamuk sosial budaya yang membentengi kehidupan mereka.

Novel Hujan Bulan Juni adalah cerita yang mampu mengetengahkan konflik yang sensitif dengan penokohoan sederhana. Di tengah ceritanya yang cukup lirih, pesan bahwa toleransi adalah penghubung paling ampuh dalam isu perbedaan keyakinan tersampaikan dengan apik. Selain itu, moral cerita berhasil diungkap dengan cara menyadarkan kita bahwa manusia sejatinya diciptakan sama dan perbedaan sesungguhnya hanyalah ilusi yang dipaksakan ada.

A linguaphile at heart and a photography enthusiast.

0 komentar:

Posting Komentar

Start Work With Me

Contact Me