Minggu, 11 November 2018

Teknik Penerjemahan: Transposisi

Penerjemahan yang baik adalah penerjemahan yang membuat nyaman pembaca teks terjemahan. Nyaman dalam konteks ini adalah ketika teks terjemahan dapat mengalir dengan baik dan tidak terasa seperti sebuah terjemahan. Sebagai seorang penerjemah, insting seperti ini harusnya sudah melekat dengan baik dalam diri penerjemah. Dengan demikian, ketika mengerjakan sebuah pekerjaan terjemahan, target penerjemah adalah bagaimana membuat pembaca merasa teks yang kita terjemahkan seperti sebuah teks asli dalam bahasa sasaran. Pada akhirnya, mereka tidak sadar kalau teks yang mereka baca adalah hasil dari sebuah proses penerjemahan. Jika hal ini tercapai, penerjemah dianggap berhasil.

Ada banyak cara untuk menghasilkan terjemahan yang nyaman dan berterima. Proses olah kalimat baik pada tataran sintaksis dan semantis dalam bahasa sasaran bisa digunakan. Namun, penerjemah tidak bisa seenaknya mengubah teks sasaran tanpa melihat konteks dan makna teks sumber. Oleh karena itu, ada batasan-batasan yang perlu dipatuhi oleh penerjemah.

Salah satu metode penerjemahan yang bisa digunakan untuk membuat teks dapat mengalir dengan baik adalah teknik transposisi. Metode ini diterapkan dengan cara mengubah jenis kata teks sumber menjadi jenis kata sepadan yang berbeda tanpa mengubah arti (Wortartwechsel). Pada tataran sintaksis, nilai kedua teks tidak sama atau mengalami perubahan. Namun, pada tataran semantik, keduanya bermakna sama.

Perhatikan kalimat berikut:
Penerjemahan adalah mengubah teks sumber ke dalam teks sasaran. (Perubahan teks sumber ke dalam teks sasaran disebut penerjemahan.)

Secara struktur kalimat, kedua kalimat di atas berbeda. Namun, keduanya mengandung makna kalimat yang sama.

Jika transposisi dikaitkan dengan aturan jenis kata, sebuah rujukan ilmiah linguistik dari Bausch bisa digunakan. Karl-Richard Bausch menjelaskan konsep aturan jenis kata dalam sebuah jurnal penerjemahan Linguistica Antverpiensia yang terbit pada tahun 1968. Jenis perubahan jenis kata adalah sebagai berikut:

1. Substitusi
Unsur penanda dalam bahasa sumber digantikan menjadi satu atau beberapa penanda dengan jenis kata yang berbeda dalam bahasa sasaran. Cara ini disebut juga substitusi sepenuhnya.
Contoh:
Dia bertolak dari argumen bahwa...  Dia berpendapat bahwa...

2. Chassé-croisé
Jenis ini bisa dikatakan sebuah kasus khusus substitusi penuh. Pada kasus ini dua penanda bahasa sumber diterjemahkan menjadi dua penanda berbeda dalam bahasa sasaran. Dengan kata lain, ada dua substitusi yang terjadi (doppelte Substitution).
Contoh:
Il me rendit mon salut Er grüßte mich wieder.

Rendit (kata kerja)  wieder (kata keterangan)
Salut (kata benda)  grüßen (kata kerja)

3. Dilusi 
Informasi yang disampaikan sebuah penanda dalam bahasa sumber diterjemahkan ke dalam beberapa penanda dalam bahasa sasaran. Pada saat yang bersamaan juga mengandung beberapa jenis kata.
Contoh:
Eine alte weißhaarige Frau. An old woman with white hair.

4. Konsentrasi
Metode ini adalah kebalikan dari Dilution. Informasi dalam bentuk beberapa penanda bahasa sumber diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran dengan penanda yang lebih sedikit.

5. Amplifikasi
Penambahan detail informasi secara lebih gamblang ke dalam bahasa sasaran (eksplisit).
Contoh:
Donald Trump will visit him tomorrow. 
Donald Trump akan mengunjunginya (Vladimir Putin) besok.

6. Reduksi
Metode ini adalah kebalikan dari amplifikasi. Detail informasi yang disampaikan dalam bahasa sumber dihilangkan karena asumsi pemahaman penutur bahasa sasaran atau informasi tersebut hanya bersifat implisit.
Contoh:
Jokowi, who was born in Solo, is the current president of the Republic of Indonesia.
Jokowi adalah presiden Republik Indonesia saat ini.

Referensi:
Bausch, K.-Richard. 1968: Die Transposition. Versuch einer neuen Klassifikation. Linguistica Antverpiensia II
Molina, Lucia dan Hurtado Albir, A. 2002. Translation Techniques Revisited: A Dynamic and Functionalist Approach dalam Meta: Journal des traducteur/Meta: Translator’ Journal. XLVIII, No. 4.
Stolze, Radegundis. 2018. Übersetzungstheorien: eine Einführung. Tübingen: Narr Francke Attempto Verlag GmbH + Co. KG.

A linguaphile at heart and a photography enthusiast.

0 komentar:

Posting Komentar

Start Work With Me