Sabtu, 17 November 2018

Translation Brief (Übersetzungsauftrag) dalam Penerjemahan
Pengejawantahan teori skopos dalam penerjemahan mengantarkan Christiane Nord, seorang ahli studi penerjemahan asal Jerman, pada sebuah rumusan petunjuk penerjemahan (translation brief). Rumusan ini bertujuan untuk memudahkan penerjemah dalam melaksanakan pekerjaannya dan memfokuskan ruang gerak penerjemah agar tetap memerhatikan tujuan awal penerjemahan.

Penerjemah atau juru bahasa seringkali menghadapi beragam situasi yang menguji kemampuan beradaptasi dalam konteks komunikasi. Pemberi kerja biasanya mengharapkan agar terjemahan bisa sesuai dengan tujuan awal tugas penerjemahan. Penyesuaian terhadap tujuan ini kerap terlupakan karena kurangnya pengetahuan mengenai keadaan kepada siapa teks hasil terjemahan tersebut akan disampaikan.

Kita ambil contoh sederhana misalnya penerjemahan sebuah draf sambutan yang awalnya ditujukan untuk orang dewasa. Namun, target audiens untuk teks terjemahan berubah menjadi anak-anak. Pada awal sambutan terdapat kata-kata “ladies and gentlemen”, penerjemah seharusnya tidak menerjemahkan frasa tersebut menjadi “bapak dan ibu sekalian”, melainkan menjadi “adik-adik sekalian” tergantung siapa yang akan menyampaikan sambutan tersebut dan posisinya sebagai apa.

Dari contoh di atas bisa dipahami bahwa konteks dan tujuan suatu penerjemahan tidak serta merta sama dengan konteks dan tujuan teks sumbernya. Oleh karena itu, Nord mengatakan perlunya menyusun profil teks sasaran sebelum melakukan proses penerjemahan. Profil ini terangkum dalam petunjuk penerjemahan (translation brief) yang terdiri dari:

1. Target pembaca atau penerima teks sasaran;
Penerjemah harus mengetahui siapa yang akan menjadi pembaca teks terjemahan. Perbedaan usia, kelompok, budaya, dan pengetahuan audiens perlu disesuaikan dalam teks terjemahan agar pesan tetap dapat diterima oleh target audiens.

2. Waktu dan tempat penerimaan teks sasaran;
Latar waktu dan tempat juga perlu diperhatikan oleh penerjemah agar hasil terjemahan tetap bisa berterima sesuai konteks waktu dan tempat ketika terjemahan tersebut disampaikan.

3. Medium tempat teks sasaran akan disampaikan;
Teks terjemahan yang akan diterbitkan pada majalah remaja akan berbeda nuansanya jika diterbitkan pada surat kabar politik. Pilihan kosakata dan diksi pada medium yang berbeda akan memengaruhi jalur yang harus ditempuh penerjemah pada saat melaksanakan tugasnya.

4. Motif dari produksi atau penerimaan teks.
Tujuan penerjemahan juga harus memerhatikan motif yang terkandung dalam teks yang akan diterjemahkan. Perbedaan fungsi teks akan berpengaruh terhadap cara teks sasaran akan disampaikan. Teks untuk tujuan pemasaran perlu pendekatan persuasif agar fungsi pemasarannya dapat tersampaikan. Teks ekspresif misalnya dalam karya sastra perlu pendekatan emosi dan permainan kata agar nilai kesastraannya tetap terjaga.

Referensi:
Nord, Chriatiane. 1997. Translating as a Purposeful Activity. Menchester, UK: Stjerome Publishing

A linguaphile at heart and a photography enthusiast.

0 komentar:

Posting Komentar

Start Work With Me