Welcome!

I am Ano Jumisa a Translator an Interpreter working in german, english, and indonesian

View Work Hire Me!

About Me

Translation
Interpreting
Proofreading
Who am i

Ano Jumisa

Professional Translator

A skilled translator and interpreter fluent in German, English, and Indonesian, specializing in technical content. Bridging language gaps with precision and expertise, ensuring seamless communication across diverse industries.

Ano Jumisa's meticulous attention to detail and deep understanding of technical terminology guarantees accurate and reliable translations, making complex concepts accessible to a wider audience.

Services

Translation

Seamlessly translating your content between German, English, and Indonesian, preserving the essence and cultural nuances.

Interpreting

Facilitating smooth communication in meetings, conferences, and events, bridging language barriers with precision and professionalism.

Editing

Polishing your written materials to perfection, refining grammar, style, and structure for a flawless and impactful final product.

Proofreading

Thoroughly reviewing your texts with meticulous attention to detail, eliminating errors and inconsistencies to enhance clarity and readability.

My Blog

Ulasan Novel Hujan Bulan Juni





"Bahwa kasih sayang beriman pada senyap." Sapardi Djoko Damono.

Lirih. Kata pertama yang melayang dalam benak saya saat selesai membaca novel karya pujangga kelahiran Solo ini. Bagaimana tidak, novel ini berkisah tentang dua orang tenaga pendidik di sebuah kampus ternama di Indonesia yang sangat kentara dengan watak romantika cinta seperti yang sering dikisahkan generasi sebelum milenial. Mereka memupuk subur romantika cinta saat melakukan perjalanan dinas yang ditugaskan instansinya. Cerita sendu yang dijalani oleh dua tokoh utama, Sarwono dan Pingkan Palenkahu, ini mengetengahkan alur tentang nilai yang tak sempat bermuara di ujung lidah, cinta yang tak terucap, rindu yang tak terungkap, cemburu yang tak tersibak, dan angan yang saling bertolak.

Sapardi tak hanya berhasil menyatukan minahasa dan jawa, dua kontras budaya dari ujung utara dan selatan Indonesia dalam ceritanya ini, tetapi juga sedikit banyak menyentil kisah tabu yang justru menggariskan kembali kenyataan bahwa Indonesia itu kaya dan beragam. Kearifan budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, norma dan nilai keluarga yang dijunjung tinggi di atas segalanya, sampai dengan ajaran agama yang sangat sensitif tak luput dicuil sang guru besar kelahiran tahun 1940 ini.


Cerita Konservatif dalam Balutan Masa Kini

Walaupun garis cerita cenderung kolot, Sapardi tidak lupa menempatkan diri dengan gaya kekinian agar bisa diterima pembaca masa kini. Latar waktu yang diambil dari abad ke-21 dengan ditandai penggunaan motif teknologi seperti whatsapp, keynote, google, sampai raksasa berita CNN pun muncul sebagai motif pendukung garis waktu cerita.

Ada beberapa hal yang menurut saya perlu diapresiasi dalam unsur cerita novel ini. Pengangkatan legenda masyarakat minahasa, Pingkan dan Matindas, sebagai salah satu unsur pembangun cerita cukup mengingatkan kembali bahwa ada banyak sekali cerita rakyat di Indonesia yang mungkin saat ini sudah jarang sekali atau bahkan tidak sama sekali diketahui oleh generasi muda sekarang.

"Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar sapu tangan yang telah ditenunnya sendiri." Sapardi.

Selanjutnya, hubungan beda agama yang digambarkan terjalin cukup harmonis berhasil mengubah persepsi pembaca. Namun, Sapardi tetap realistis dengan membangun konflik yang cukup lumrah ditemukan. Pengaruh aspek budaya dalam alur konflik mengantarkan kita tentang cara menyikapi konflik secara dewasa. Konsep bhinneka tunggal ika yang begitu kental diejawantahkan dengan baik dan tidak berlebihan.

Terakhir adalah apresiasi saya tentang bagaimana Sapardi menonjolkan konsep eksistensialisme dalam kedua tokoh utama yang bebas untuk menentukan sikap, membuat keputusan dan menentukan jalan hidup mereka sendiri di tengah kecamuk sosial budaya yang membentengi kehidupan mereka.

Novel Hujan Bulan Juni adalah cerita yang mampu mengetengahkan konflik yang sensitif dengan penokohoan sederhana. Di tengah ceritanya yang cukup lirih, pesan bahwa toleransi adalah penghubung paling ampuh dalam isu perbedaan keyakinan tersampaikan dengan apik. Selain itu, moral cerita berhasil diungkap dengan cara menyadarkan kita bahwa manusia sejatinya diciptakan sama dan perbedaan sesungguhnya hanyalah ilusi yang dipaksakan ada.

Sejarah Awal Penerjemahan



Bukti peran juru bahasa tertua di dunia yang pernah ditemukan saat ini berasal dari zaman Babilonia Kuno. Gambaran kegiatan penerjemahan ini terukir pada sebuah prasasti kuburan firaun terakhir dinasti ke-18 Mesir Kuno, Horemheb. Dalam prasasti tersebut ditemukan sebuah ukiran gambar manusia dalam posisi sedang mendengarkan dan berbicara. Relief tersebut menggambarkan Horemheb yang memperkenalkan juru bahasa kepada pimpinan bangsa asing pada saat pertemuannya dengan Tutankhamen.

Relief juru bahasa tersebut juga mengindikasikan status sosial juru bahasa pada masa itu. Ukiran juru bahasa dibuat lebih kecil dibandingkan ukiran Horemheb. Selain itu, sang juru bahasa juga tidak memiliki janggut yang pada masa itu mengindikasikan kekuasaan dan keturunan dewa. Penanda tersebut mengindikasikan bahwa posisi juru bahasa hanyalah sebuah peran mediasi dan tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri.

Pada zaman Mesir Kuno, sebutan "manusia" merupakan sebutan kehormatan yang hanya disematkan kepada kelompok masyarakat yang menjadi bagian dari wangsa yang sama. Pada sisi lain, orang-orang di luar kelompok ini atau orang asing akan disebut sebagai kaum barbar. Para ahli arkeologi memercayai bahwa status sosial juru bahasa lebih rendah dibandingkan kaum barbar karena ukuran reliefnya yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan relief orang asing.

Pada dasarnya, belum ada penemuan lengkap yang menguraikan secara terperinci mengenai sejarah penerjemahan. Walaupun demikian, Hans J. Vermeer, seorang ahli linguistik berkebangsaan Jerman pernah memublikasikan sebuah karya berjudul "Skizzen zu einer Geschichte der Translation". Dalam karyanya ini, Hans mengelompokkan sejarah penerjemahan dalam beberapa pembabakan, mulai dari periode Klasik hingga Abad Renaisans.

Sebagian besar karya terjemahan yang diangkat waktu itu bersifat anonim sehingga peran penerjemah bukanlah peran "primadona" yang dikenal khalayak. Meskipun demikian, karya-karya terjemahan yang dihasilkan memainkan peran penting dalam perkembangan zaman. Beberapa hal penting yang berkembang akibat karya terjemahan di antaranya adalah penyebaran agama melalui penerjemahan kitab suci, pengembangan bahasa nasional, penyebaran pengetahuan, perluasan kekuatan politik, penyebaran nilai budaya, penyusunan kamus dan peran juru bahasa dalam misi-misi diplomatik.

a. Penerjemahan pada Periode Antik Yunani-Romawi
Periode ini diyakini sebagai periode pertama saat ditemukannya konsep dasar penerjemahan. Salah satu tujuan kegiatan penerjemahan pada periode ini diyakini sebagai bentuk untuk memperkenalkan bahasa Latin kepada bangsa Yunani. Strategi ini diterapkan melalui pembuatan karya sastra. Selain itu, penerjemahan juga digunakan sebagai media untuk mengadopsi karya sastra bangsa Yunani kuno dan mengalihkannya menjadi genre baru dalam karya sastra bangsa Romawi.

Salah satu penerjemah terkenal pada masa ini adalah Marcus Tullius Cicero (106-43 SM). Salah satu teori penerjemahan yang diperkenalkan Cicero adalah "non ut interpres sed ut orator", seorang penerjemah pada saat melakukan kegiatan penerjemahan sudah selaiknya memosisikan dirinya bukan sebagai orang yang mengalihbahasakan suatu teks agar mirip dengan teks sasaran, melainkan penerjemah harus memosisikan diri seolah-olah teks yang diterjemahkan berasal dari mulutnya sendiri agar hasil terjemahan terasa nyata dan bukan terasa sebagai karya terjemahan.

b. Penerjemahan pada Masa Martin Luther
Salah satu karya terjemahan terbesar dalam sejarah umat manusia yang mengakibatkan perubahan signifikan bagi peradaban manusia adalah terjemahan Bibel ke dalam bahasa Jerman kuno oleh Martin Luther, pemimpin Reformasi Protestan Jerman. Martin Luther tergerak untuk melakukan penerjemahan Bibel karena Bibel pada waktu itu hanya tersedia dalam bahasa Latin yang hanya dipahami oleh kaum cendekiawan dan pendeta. Luther meyakini bahwa kitab suci harus dapat diakses oleh semua kalangan dan dipahami tanpa ada sekat bahasa.

Ketidaksepahaman Luther dengan Gereja Katolik Roma sudah bermula ketika ia membuat 95 dalil yang mengguncang dunia pada tahun 1517. Pada waktu itu, Luther tidak sepaham dengan Gereja katolik Roma yang melakukan praktik korupsi, jual beli indulgensi penuh untuk pengampunan dosa, dan peran mutlak Paus sebagai satu-satunya orang yang dapat menerjemahkan kitab suci.

Penentangan Luther terhadap kesewenang-wenangan Gereja Katolik Roma berhasil menumbuhkan niatnya untuk menyadarkan para pengikut gereja bahwa keyakinan beragama haruslah diiringi dengan pemahaman mendalam yang tidak dimonopoli oleh satu kelompok demi kepentingan sepihak.

Luther kemudian menerbitkan karya terjemahannya yang dikenal sebagai Kitab Perjanjian Baru pada tahun 1522. Selanjutnya, pada tahun 1534, Luther menerbitkan terjemahan lengkap Bibel yang berisi kitab perjanjian lama, perjanjian baru dan apokrif. Karya Martin Luther ini memberikan dampak besar bagi perkembangan dunia penerjemahan. Ia diyakini telah meruntuhkan tembok penghalang yang dulunya membatasi perkembangan ilmu pengetahuan lintas bahasa. Setelah mendobrak sekat ini, dunia penerjemahan bangun menggeliat dan berkembang pesat sebagai media pertukaran informasi dan bahkan juga digunakan sebagai media penyampaian kritik atas hasil karya terjemahan Luther.

Bibel Luther. Sumber: Torsten Schleese 
Ano Jumisa

Referensi:
Rijksmuseum van Oudheden, Leiden: www.rmo.nl
Stolze, Radegundis. √úbersetzungstheorien. Narr Francke Attempto Verlag.
http://www.giic.net/curious_pt2.htm
Foto relief juru bahasa. Sumber: tautan

Panoramic Beauty







Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya


Window of the World, Shenzhen


Contact Me

Phone :

+62 812 420 9550

Address :

Kemayoran, Jakarta Pusat
Indonesia

Email :

hello@anojumisa.com